BSN.com–Tangerang Alih-alih membawa manfaat bagi masyarakat, proyek pemeliharaan betonisasi di perum taman kirana RT 04 RW 11 desa pasanggrahan kecamatan solear Kabupaten Tangerang .
Justru menuai sorotan tajam oleh masyarakat setempat, Proyek senilai Rp 149. 906.340 .000 yang bersumber dari APB-P Kabupaten Tangerang Tahun Anggaran 2025 yang dikerjakan oleh CV Raysa Hoki Kontruksi, ini diduga dikerjakan asal jadi terkesan amburadul dan minim pengawasan, tidak terlihat adanya pihak pengawas dari dinas terkait pada saat pengecoran ,dan diduga tidak sesuai dengan spesifikasi serta RAB yang sudah di tentukan oleh dinas.
Hasil pantauan awak media di lapangan menunjukkan sejumlah kejanggalan. seperti begesting sedikit ditanam ,tidak adanya pemadatan.
Dan kini sudah pecah pecah ,mulai pengecoran sabtu 29 Nopember 2025 baru tiga hari dicor sudah pecah pecah dan tidak layak serta tidak sesuai dengan anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah daerah. pengecoran serta ditemukan beberapa titik keretakan kini meski proyek baru saja selesai dikerjakan. Kondisi ini menimbulkan dugaan kuat bahwa kualitas material dan teknik pengerjaan tidak memenuhi standar teknis sebagaimana mestinya.
Proyek betonisasi di_perum Kirana rt04 RW 11 desa Pesanggrahan diduga mengutamakan kepentingan pribadi untuk memperkaya diri, bukan kwalitas serta mutu proyek yang diutamakan.
seharusnya menjadi bukti komitmen pemerintah dalam meningkatkan akses jalan warga. Namun kenyataannya, justru memunculkan kekecewaan mendalam bagi masyarakat pengguna jalan khususnya warga perum Kirana.
“Kalau dilihat dari hasilnya, seperti dikerjakan asal-asalan. Baru empat (4) hari selesai, sudah mulai rusak bahkan sudah pecah pecah ujar salah satu warga setempat kepada awak media rabu 3 Desember 2025.
Lebih ironis lagi, warga sangat kecewa dengan proyek pengecoran di perum kirana rt 01 rw 11 serta kurang Transparansi menambah kuat dugaan adanya kelalaian dalam pengelolaan proyek publik tersebut.dan uang rakyat yang dikucurkan "ter-ANCAM MUBAJIR".
Proyek tersebut menuai kritik pedas dari "Ade aktivis Serang" saya menduga bahwa lemahnya perencanaan teknis, kontrol mutu, dan pengawasan dari instansi berwenang menjadi faktor utama buruknya hasil pekerjaan. Padahal, nilai proyek ratusan juta rupiah itu bersumber dari uang rakyat yang semestinya digunakan secara transparan dan akuntabel.
“Lanjut Ade dengan dana sebesar itu, hasilnya seharusnya bisa jauh lebih baik. Kalau seperti ini, masyarakat jelas merasa kecewa dan uang rakyat terancam " mubajir"
Kondisi ini mencerminkan lemahnya kontrol kualitas terhadap proyek-proyek infrastruktur tingkat desa yang menggunakan uang rakyat . Bila tidak segera dievaluasi, proyek semacam ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.
Publik kini menantikan langkah tegas dari Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Pihak Kecamatan Solear, khususnya inspektorat, untuk meninjau ulang dan mengaudit pelaksanaan proyek betonisasi di tanan kirana . Evaluasi menyeluruh diperlukan agar jelas apakah terjadi kelalaian dalam perencanaan dan pengawasan, atau bahkan indikasi penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Karena sejatinya, setiap rupiah uang rakyat harus kembali untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk proyek yang dikerjakan asal jadi tutup Ade
( redaksi ).



